a. Pengertian filsafat
Pemikiran filsafat dimulai dari munculnya kesadaran
manusia akan potensi akal budinya.
Menurut buku ini filsafat berasal dari kata
filosofi yang diambil dari kata yunani : philo (suka, cinta) dan shopia
(kebijaksanaan). Dengan demikian filsafat berarti, cinta kepada kebijaksanaan.
Secara sederhana filsafat berarti cinta pada pengetahuan dan kebijaksanaan.
Sebenarnya dalam bahasa Arab, tampakna tidak ada kata
yang pas dapat dipadankan dengan kata philosophia maupun philosophos. Dengan
demikian, kata ini lazim dipadani dengan pengertian yang secara umum dinilai
mirif dengan arti filsafat. Adapun padanan yang dimaksud yaitu hikmah. Kata
hikmah yang berarti pengetahuan dan kebijaksanaan, karena hikmah itu
menghalangi orang yang memilikinya dari perbuatan rendah dan hina.
menurut John Brubacher mengemukakan, filsafat berasal
dari kata Yunani filos dan sofia yang berarti cinta kebijaksanaan atau belajar.
Keberadaan filsafat ilmu pengetahuan memang sudah
diakui sebagai suatu disiplin ilmu. Namun, masih terjadi kesuliatan dalam
memahami secara tepat mengenai apa yang dimaksud dengan filsafat ilmu
pengetahuan itu sendiri. Untuk menetapkan dasar pemahaman tentang filsafat ilmu
pengetahuan itu menurut pandangan Conny, adalah dengan menlusuri empat
pandangan didalam filsafat ilmu.
Berdasarkan pandangan pertama, tugas dari
filsuf ilmu pengetahuan mengelaborasikan implikasi yang lebih luas dari ilmu
pengetahuan. Pandangan kedua cenderung mengasimilasikan filsafat ilmu
pengetahuan dengan sosiologi. Sedangkan pandangan ketiga, memberi kejelasan
tentang makna dari berbagai konsep dan kompleks didlam pemanfaatan ilmiah.
Kemudian pandangan keempat, berpendapat bahwa filsafat ilmu pengetahuan mengacu
pada tuntutan jawaban terhadap serangkaian pertanyaan, yakni:
1. Karakteristik-karakteristik apa yang membedakan penyelidikan ilmiah
dengan tipe penyelidikan lain?
2. Prosedur yang mana yang patut dituruti oleh para ilmuan dalam
penyelidikan alam?
3. Kondisi yang bagaimana yang harus dicapai bagi suatu penjelasan ilmiah
agar menjadi benar?
4. Status kognitif yang bagaimana dari prinsip-prinsip dan hokum-hukum
ilmiah?
b. Bidang kajian filsafat ilmu pengetahuan
1. Ontologi
Ontologi berasal dari kata Yunani on (ada), dan ontos
berarti keberadaan. Sedangkan logos berarti pemikiran. Jadi ontology adalah
pemikiran mengenai yang ada dan keberadaannya (Suparlan Suharton, dalam
Jalaluddin:157). Kata Yunani onto berarti yang ada secara nyata, kenyataan yang
sesungguhnya.
Menurut Nadiroh beberapa pertanyaan dalam kajian
ontoligi adalah :
a. Apakah yang dimaksud dengan ada, keberadaan, dan eksistensi itu?
b. Bagaimana penggolongan dari ada, keberadaan, dan eksistensi itu ?
c. Apa sifat dasar (nature) kenyataan atau keberadaan?
2. Epistemologi
Epistemology berasla dari kata Yunani episteme yang
berarti pengetahuan, “pengetahuan yang benar”, “pengetahuan ilmiah” dan logos
berarti teori.
Menurut Prof. Dr. Nadiroh, persoalan-persoalan
epistemologi adalah:
a. Apakah pengetahuan itu?
b. Bagaimanakah manusia dapat mengetahui sesuatu?
c. Dari mana pengetahuan itu dapat diperoleh?
d. Bagaimanakah validitas pengethuan itu dapat dinilai?
e. Apa perbedaan antara pengetahuan a priori (pengetahuan pra pengalaman)
dengan pengalaman a posteriori (pengetahuan purna pengalaman)?
f. Apa perbedaan antara: kepercayaan, pengetahuan, pendapat, kenyataan,
fakta, kesalahan, bayangan,, gagasan, kebenaran, kebolehjadian, dan kepastian.
3. Aksiologi
Aksiologi berasal dari kata bahasa Yunani,
yaitu axios dan logos. Axios artinya nilai dan logos artinya teori. Aksiologi
adalah teori tentang nilai. Nilai merupakan nilai abstrak yang berfungsi
sebagai daya pendorong atau prinsip-prinsip yang menjai pedoman dalam hidup.
Nilai menempati kdudukan penting dalam kehidupan seseorang, sampai pada suatu
tingkat dimana sementara orang lebih siap mengorbankan hidup ketimbang
mengorbankan nilai.
c. Ilmu pengetahuan
Pengetahuan alamiah dan pengetahuan ilmiah.
Bersumber dari rasa ingin tahu, yang merupakan ciri khas manusia. Meskipun
demikian pengetahuan dibedakan dari ilmu pengetahauan. Pengetahuan alamiah
hanya terbatas pada rangkaian informasi tentang sesuatu benda, fakta,
peristiwa, dan lainnya. Melalui pengetahuan alamiah seseorang hanya dapat
mengetahui atau tahu. Pengetahuan tentang fauna di masyarakat suku primitif,
misalnya dihubungkan dengan pengetahuan dasar tentang berburu dan bertani.
Dihubungkan dengan keterampilan berburu guna mendapatkan daging hewan bagi
kebutuhan hidup. Selain itu, juga untuk mengetahui kelalkuan hewan untuk dapat
menjaga ladang atau sawah dari gangguan hewan yang dimaksud.
Pengembangan ilmu pengetahuan ini dilatarbelakangi
oleh adanya tiga dorongan. Pertama, dorongan untuk mengetahui yang lahir dari
keterpaksaan untuk mempertahankan hidup. Kedua, dorongan manusia untuk memenuhi
kebutuhan yang mendalam dan menemukan tata susunan yang sesungguhnya dalam
kenyataan. Ketiga, dorongan mengetahui menyangkut penilaian mengenai realitas
eksistensi manusi itu sendiri. Menilai kondisi konkret, agar ia dapat bertindak
sesuai martabatnya. Jadi manusia mengembangkan pengethauannya tak dapat dilepaskan
dari upaya mengatasi kebutuhan dan kelangsungan hidupnya.
Pengetahuan merupakan temuan-temuan dari hasil
observasi, persepsi tentang dunia, baik langsung maupun melalui perangkat
ilmiah, selalu diturunkan melalui sejarah yang panjang. Ilmu pengetahuan
(pengetahuan ilmiah) pada dasarnya adalah kelanjutan konseptual dan ciri-ciri
“ingin tahu” sebagai kodrat manusiawi. Dalam kehidupannya manusia selalu
berhadapan dengan berbagai peristiwa dan gejala di lingkungan, baik yang
menyangkut alam, maupun manusia.
Ilmu pengetahuan bertujuan untuk mengonseptualisasikan
fenomena-fenomena alam dalam sebab-sebab, dalam urutan-urutan sebab akibat, dan
mencari asas-asas umum.
melalui pengalaman manusia dapat memiliki atau
mengausai ilmu pengetahuan, baik secara individual maupun dalam hidup
bermasyarakat. Penguasaan ilmu pengetahuan melalui pengalaman sendiri sering
disebut trial and error. Belajar Ilmu
pengetahuan dapat mengguanakn model tradisi yang berlaku didalam masyarakatnya.
Ilmu pengetahuan juga dapat diperoleh melalui metode otoritas, yakni bersumber
dari seseorang yang memiliki kompetensi keilmuan (pakar).
Prose manusia memperoleh ilmu pengetahuan menurut Suhartono Suparlan dari sumbernya,
yaitu:
Pada mulanya pengetahuan didapat dengan cara percaya.
Yaitu percaya kepada adat-istiadat, agama, dan kesaksian orang lain.
Selanjutnya melalui kemampuan pancaindera/pengalaman kepercyaan itu mulai
diragukan kebenarannya. Ketika pikiran mulai bekerja, maka mulai ada perkiraan,
yaitu ketika ada faktor-faktor yang mengiyakan atau menidakkan berat sebelah.
Begitu seterusnya. Apabila berat sebelahnya semakin kuat, maka kemudian berubah
menjadi pendapat. Ketika pendapat sering teruji baik secara empirik maupun
rasional, maka berubah menjadi kepastian. Akhirnya, ketika kepastian selalu
teruji baik secara empirik maupun rasional, maka berubah menjadi keyakinan yang
cenderung sulit untuk diubah.
sumber :

Tidak ada komentar:
Posting Komentar