Konsep objek akal budi praktis murni
Objek adalah efek yang hanya dimungkinkan melalui
kebebasan. Menjadi objek pengetahuan praktis, dengan demikian hanya mengandung
arti hubungan kehendak dengan tindakan dimana hal ini atau hal sebaliknya
diwujudkan.
Jika sisi lain, suatu hukum a priori dapat dipandang
sebagai dasar penentu tindakan, yang konsekuensinya dianggap diyakini oleh akal
budi praktis murni, maka penilaian terkait benar tidaknya sesuatu menjadi objek
akal budi praktis murni sepenuhnya tidak terikat dengan pertanyaan tentang
kemampuan fisik kita; satu-satunya pertanyaan adalah apakah kita harus berniat
melakukan suatu tindakan yang diarahkan pada eksistensi suatu objek jika objek
itu berada di dalam pengaruh kita.
Jika konsep kebaikan tidak berasal dari hukum praktis
namun justru berfungsi sebagai dasar kejahatan, hal ini hanya bisa menjadi
konsep sesuatu yang eksistensinya menjanjikan kebahagiaan sehingga menentukan
kausalitas objek (hasrat) dalam menghasilkannya. Kini karena tidak mungkin
melihat secara a priori ide mana yang akan disertakan dengan penderitaan, maka
sepenuhnya menjadi masalah pengalaman untuk menjelaskan apa itu kebaikan dan
kejahatan. Bagian dari subjek ini, dimana pengalaman tersebut dapat diperoleh,
adalah rasa bahagia atau tidak bahagia sebagai satu kehendak untuk menerima
yang menjadi bagian indera batin; jadi konsep kebaikan hanya akan mengacu
kepada hal-hal yang diasosiasikan dengan sensasi kebahagiaan, dan konsep
kejahatan sudah pasti dikaitkan dengan hal-hal yang secara langsung merangsang
penderitaan.
Hukum moral diterima sebagai satu fakta yang sangat
menyakinkan seolah-olah sebagai akal budi murni itu adalah fakta yang kita
sadari secara a priori, sekalipun bila diyakini bahwa tidak ada satupun contoh
yang dapat ditemukan ditempat ia dipahami secara pasti.
Jadi realitas hukum objektif moral tidak dapat
dibuktikan melalui deduksi, penerapan akal budi yang didukung secara teoritis,
spekulatif, dan empiris dan bahkan jika orang ingin memahami kepastian yang
meyakinkan ini, hal ini tidak dapat dibuktikan dengan pengalaman sehingga
terbukti bersifat a posteriori.
Analika akal budi praktis murni berhubungan dengan
pengetahuan tentang objek yang mungkin akan dipahami. Dengan demikian dia harus
mulai dari intuisi dan dari sensibilitas; hanya setelah itulah dia akan
berkembang menjadi konsep; dia baru dapat berakhir menjadi prinsip setelah
keduanya dilakukan. Pada sisi lain, akal budi praktis tidak berkaitan dengan
objek untuk memahami mereka namun berhubungan dengan kapasitasnya sendiri untuk
menjadikannya nyata sepanjang yang mereka ketahui, jadi dia berhungan denga
kehendak yang merupakan satu agen kausal selama akal budi berisi sejumlah dasar
penentu.
Dalam sejarah filsafat Yunani sebelum Axagoras tidak
ada jejak yang jelas tentang teologi rasional murni. Akal budi dalam konteks
ini bukanlah bahwa para filsuf sebelumnya kekurangan pemahaman dan wawasan
untuk mengangkat dirinya sampai kederajat ini dengan cara berspekulasi, paling
tidak dengan bantuan hipotesis yang sangat masuk akal.
Jika akal budi praktis tidak dapat berasumsi dan
berpikir lebih jauh daripada yang dapat dilakukan oleh akal budi praktis
berdasarkan atas pengetahuannya sendiri, yang kedua ini menduduki posisi
penting. Namun seandainya yang pertama memiliki prinsip a priori asli dimana
posisi teoretik tertentu terkait erat namun yang berada diluar segala
kemungkinan bagi pemahaman tentang akal budi spekulatif.
sumber:

Tidak ada komentar:
Posting Komentar